Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Cara Baru Mengasah Otak

JUDUL : CARA BARU MENGASAH OTAK DENGAN ASYIK
PENULIS : DAVID GAMON,Ph.D.
PENERBIT : KAIFA
TAHUN : 2005
TEBAL : 292 HALAMAN

    Penelitian otak pada dasawarsa terakhir ini marak dibicarakan. Keajaiban otak yang menyimpan misteri yang belum terungkap mengundang para ahli untuk mempelajarinya. Temuan-temuan tentang otak ini bagaikan bola salju yang terus bergulir. Salah satu yang menggulirkan bola salju tersebut adalah David Gamon. Bersama dengan Allen Bragdon seorang pendiri majalah games dan teka-teki “playspace” untuk sindikasi New York Times, David mencoba menelurkan cara baru mengasah otak dengan asyik melalui buku ini.

    Buku ini dipersembahkan kepada semua orang yang menjaga pikiran mereka agar tetap aktif, terutama mereka yang telah memanfaatkannya untuk mengeksplorasi sarana kelangsungan hidup dan kegembiraan yang sangat menarik-yaitu otak manusia. Demikian kalimat pembuka di halaman 5. Kalimat ini membawa kita sedikit membayangkan isi buku ini.
    Kebenaran pernyataan ini dapat kita buktikan setelah membaca bagian isi buku. Saya ambilkan contoh salah satu teka-teki yang ada di dalam buku tersebut. Seorang petani ingin menyeberangkan seekor rubah, sekor angsa, dan sekantung biji ke seberang sungai. Tetapi perahunya hanya cukup untuk mengangkut satu penumpang sekali jalan. Jika dia meninggalkan rubah dan angsa berduaan di sisi sungai, rubah akan memakan angsa itu. Jika dia meninggalkan angsa dengan sekantung biji, angsa akan memakan biji itu. Bagaimana dia bisa membawa ketiganya ke seberang sungai? (halaman 47).Teka-teki tersebut hanya salahsatu dari beberapa teka-teki dalam buku ini. Teka-teki yang disajikan sesuai untuk mengasah 6 zona kecerdasan manusia.

    Ada beberapa yang perlu dibenahi jika saya menjadi seorang editor penerbit buku tersebut. Saya mengakui isi buku bagus tetapi dalam hal penyajiannya belum bisa menyesuaikan tipologi membaca orang Indonesia. Besar huruf dan banyaknya paragraf yang tersusun sudah membuat calon pembacanya jemu. Detil informasi yang tersaji akan mereka lewatkan. Mereka hanya akan membuka teka-teki yang tersaji khusus di sebuah kotak. Jika saja mereka mau membaca lebih detil mungkin mereka akan kaget setelah menemukan tulisan bahwa nikotin ternyata meningkatkan ingatan spasial, pembelajaran, dan pemrosesan informasi. Nikotin merupakan sebuah obat”pintar” baru. Maaf saya tidak akan menyebutkan halamannya supaya kamu penasaran.

    Otak manusia bagaikan raksasa yang tidur. Ketika raksasa itu bangun maka kau akan menemukan keajaiban-keajaiban yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya. Jangan biarkan dia tidur. Buatlah mereka terjaga dengan membaca dan menerapkan isi buku ini. Buku ini sangat cocok untuk kamu yang ingin merubah dari manusia pelupa menjadi manusia jenius. Manusia yang menghiasi hidupnya dengan karya-karya kreatifnya.

    Kapitalis Mengajarkan Dusta

    Judul      : Belajar Dusta di Sekolah Kita
    Penulis   : Sucipto Hadi Purnomo
    Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri, Yogyakarta
    Tahun    : April, 2008

      Pancaindera merupakan sebuah nikmat Tuhan yang tak terkira. Melalui pancainderalah kita belajar menyikapi fenomena yang terjadi dalam lingkungan. Begitu pula dengan Sucipto hadi Purnomo. Dia gunakan pancainderanya untuk mengamati carut marut dunia pendidikan Indonesia. Lantas dia ikat hasil pengamatannya tersebut dalam buku ini.

      Buku ini sengaja disajikan bagi dunia pendidikan Indonesia yang tak jua bangkit dari keterpurukan. Begitu peliknya permasalahan sehingga sulit mengurai satu persatu akar masalah yang ruwet bagaikan benang layang-layang. Melalui buku ini pulalah Sucipto mencoba mengurai akar masalah tersebut. Sadar atau tidak pendidikan Indonesia telah mengalami pergeseran dari cita-cita sebenarnya.Sekolah sebagai tempat formal untuk memanusiakan manusia kini telah bermutasi menjadi ladang bagi kapitalis-kapitalis pendidikan.Guru tak lebih layaknya buruh dan siswa merupakan komoditas yang menguntungkan para kapitalis tersebut.

      Mentalitas kapitalisme yang licik telah merasuk ke dalam pejabat pendidikan hingga kepala sekolah. Kenyataan ini tak bisa kita pungkiri. Beberapa daerah di pelbagai pelosok negeri busung korupsi ini dikabarkan membutuhkan banyak tenaga kependidikan. Ironis jika hal tersebut ada sedangkan banyak sarjana pendidikan yang menganggur. Pemerintah tak bisa tinggal diam begitu saja membaca kenyataan ini lantas mereka merekrut guru bantu. Dengan perekrutan guru bantu, kebutuhan pemerintah terpenuhi. Angka pengangguran para sarjana pendidikan setidaknya dapat diminimalisir. Kenyataan berbicara lain, honor perbulan guru tersebut di bawah rerata UMR buruh pabrik. Guru bantu tak sekadar membantu pemerintah memenuhi tetapi lebih tepatnya menjadi guru (pem-)bantu. Beban tugas banyak bahkan melebihi guru PNS, tetapi honor berbanding terbalik dengan profesionalitas mereka. Sungguh tak pantas jika pemerintah mengklaim telah mengangkat kesejahteraan guru (hlm. 22). Pengangkatan guru bantu bukan untuk menyejahterakan guru,melainkan demi kepentingan pemerintah dalam pengadaan guru karena tak kuat (tak mau?) mengangkat guru negeri (hlm.16).

      Kurikulum sebagai acuan operasional diobok-obok tak karuan. Ganti menteri ganti kurikulum, bukan hal baru bagi rakyat. Rakyat bisa memaklumi hal tersebut, tokh para menteri juga ingin menunjukkan prestasinya, bukan? Tuntutan standar kelulusan nasional merupakan wujud pengkhianatan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang pemerintah gulirkan. Pendidikan yang seyogyanya menjadi tempat siswa mengembangkan kompetensinya hanya tersentuh sebatas ranah kognitif. Pencapaian target nilai angka menjadi acuan keberhasilan proyek mercusuar pemerintah ini. “Gengsi gede-gedean” menjadi sebuah pertaruhan sekolah dengan orangtua. Wajar jika akhirnya sekolah mengajarkan dusta kepada anak didiknya. Sekolah agaknya lebih banyak menuntut daripada mendengarkan. Para guru sering lebih bangga ketika anak didiknya mampu mempersembahkan nilai 100 ketimbang mereka yang tak bisa menuntaskan PR ( hlm. 30).

      Untuk mencapai kompetisi bergengsi tersebut, LKS (Lembar Kerja Siswa) menjadi alternatif pilihan. Bejibun PR yang membebani siswa terjadi karena fungsi LKS tersebut. Sekian beban tersebut menjadikan LKS sebagai Lembar Kesengsaraan Siswa. LKS telah memberangus keceriaan anak-anak. Bahkan tak sedikit terjadi kongkalikong pemerintah,penerbit, bahkan guru dalam pengadaan LKS ini. LKS menjadi sebuah proyek semesteran atau tahunan sebagai komoditi menambah finansial guru. Kalaulah Kurikulum tingkat satuan pendidikan tak mampu menyingkirkan LKS,kalaulah para kepala dinas pendidikan tak mampu menyurutkan jual-beli lembaran ini di sekolah, entah dengan apalagi kita bisa menyurutkan subyek didik dari lembaran-lembaran menyengsarakan itu ( hlm.58). Harus bagaimana lagi, membuat LKS adalah usaha sampingan guru untuk menambah kebutuhan keluarga dan membayar hutang di bank.

      Margaret Mead berkata,”Nenek melarangku sekolah,jika ingin menambah pengetahuan”. Artinya selama ini sekolah tidak dapat menjadi lahan pengetahuan. Sekolah tak lebih hanyalah tempat formal mendapat ijazah sebagai syarat masuk jenjang selanjutnya. Barangkali setelah membaca kumpulan essay yang cukup provokatif ini, timbul sikap apatis seperti neneknya Margaret. Oleh karena itu membaca buku ini harus benar-benar dengan hati yang bersih untuk melihat segalanya dari berbagi sisi. Kumpulan essay yang terkumpul dalam buku ini diharapkan dapat membuka hati dan pandangan pemerintah dan masyarakat terhadap dunia pendidikan Indonesia yang kian tak menentu ini. Satu hal yang pasti, sekolah tak pernah salah dan kalah. Sekolah tak lebih tak kurang adalah sebagai candu! Selalu Diburu ( hlm.6)